IMAM

JANGAN LUPA SOLAT SELAGI SEMPET INGAT WAKTU SOLATMU SEBELUM DATANG AJALMU . . . . . . . . .

Digital clock

Senin, 04 Maret 2013

2 PENGARUH LAMA PEREBUSAN VITAMIN B1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.       Uraian Umum Kedelai
1.     Klasifikasi Tumbuhan :
Kerajaan               : Plantae
Divisio                   : Magnoliophyta
Kelas                    : Magnoliopsida
Ordo                     : Fabales
Family                   : Glycine
Spesies                 : Glycine max (L.) Merr. (Adisarwanto, T.2005)
2.     Nama Daerah
Kedelai dikenal dengan berbagai nama : sojaboom, soja, soja bohne, soybean, kedelai (Madura), kacang ramang, kacang bulu, kacang gambol, retak mejong (Lampung), kaceng bulu dan kacang jepun (Sunda), lebui bawak, lawui (Bima), sarupapa tiak, dole, kadule, puwe mon, kacang kuning (Aceh), kadale (Makassar) dan gadelei. Berbagai nama ini menunjukkan bahwa kedelai telah lama dikenal di Indonesia. Hampir semua lapisan masyarakat menyukai makanan yang terbuat dari kedelai, (Adisarwanto, T.2005).


4
 
3.     Morfologi Kacang Kedelai
a.     Perakaran
            Tanaman kedelai mempunyai akar tunggal yang membentuk akar-akar cabang yang tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsure hara dan air. Pertumbuhan ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman hingga 120 cm. Selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman dan alat pengangkut air maupun unsure hara, akar tanaman kedelai juga merupakan tempat terbentuknya bintil-bintil akar. Bintil akar tersebut berupa koloni dari bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum yang bersimbiosis secara mutualis dengan kedelai. Pada tanah yang telah mengandung bakteri ini, bintil akar mulai terbentuk sekiter 15 – 20 hari setelah tanam. Bakteri bintil akar dapat mengikat nitrogen langsung dari udara dalam bentuk gas N2 yang kemudian dapat digunakan oleh kedelai setelah dioksidasi menjadi nitrat (NO).
b.     Batang
            Kedelai berbatang dengan tinggi 30 – 100 cm. Batang dapat membentuk 3 – 6 cabang, tetapi bila jarak antar tanaman rapat, cabang menjadi berkurang, atau tidak bercabang sama sekali. Tipe pertumbuhan batang dapat dibedakan menjadi terbatas (determinate), tidak terbatas (indeterminate), dan setengah terbatas (semi-indeterminate). Tipe terbatas memiliki cirri khas berbunga serentak dan mengakhiri pertumbuhan meninggi. Tanaman pendek sampai sedang, ujung batang hamper sama besar dengan batang bagian tengah, daun teratas sama besar dengan daun batang tengah. Tipe tidak terbatas memiliki cirri berbunga secara bertahap dari bawah ke atas dan tumbuhan terus tumbuh. Tanaman berpostur sedang sampai tinggi, ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Tipe setengah terbatas memiliki karakteristik antara kedua tipe lainnya.
c.     Daun
            Pada buku (nodus) pertama tanaman yang tumbuh dari biji terbentuk sepasang daun tunggal. Selanjutnya, pada semua buku di atasnya terbentuknya daun majemuk selalu dengan tiga helai. Helai daun tunggal memiliki tangkai pendek dan daun bertiga mempunyai tangkai agak panjang. Masing-masing daun berbentuk oval, tipis, dan berwarna hijau.
d.     Bunga
            Bunga kedelai termasuk bunga sempurna yaitu setiap bunga mempunyai alat jantan dan alat betina. Penyerbukan terjadi pada saat mahkota bunga masih menutup sehingga kemungkinan kawin silang alami sangat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat menjadi polong walaupun telah terjadi penyerbukan secara sempurna. Sekitar 60% bunga rontok sebelum membentuk polong.
e.     Buah
            Buah kedelai berbentuk polong. Setiap tanaman mampu menghasilkan 100 – 250 polong. Polong kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Selama proses pematangan buah, polong yang mula-mula berwarna hijau akan berubah menjadi kehitaman.
f.      Biji
            Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak di antara keeping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan berkas biji melekat pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapi ada pula yang bundar atau bulat agak pipih (Anonim, 2012).
g.     Kandungan Gizi Kedelai
    Tabel 1. Kandungan kedelai (Winarsi, 2008)
Komponen
(gram/100 g)
Air
Protein
Lemak
Hidrat Arang
Kalsium
Fosfor
Besi
Kalori
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin E
7,5
34,9
18,1
34,8
227 mg
585 mg
8 mg
331 kal
110 SI
1,07 mg
17,8 mg

h.     Manfaat Kedelai
            Protein yang terkandung dalam kedelai kaya akan asam amino arginin dan glisin. Kedua asam amino ini merupakan komponen penyusun hormon insulin dan glukogen yang disekresi oleh kelenjar pankreas dalam tubuh kita dengan itu jaringan tubuh akan makin meningkat. Dengan meningkatnya kadar hormon insulin ini, kadar glukosa darah akan berkurang karena sebagian akan diubah menjadi energi. Inilah yang pada akhirnya akan membuat gejala diabetes dapat tertekan. Selain sebagai penekan diabetes kedelai juga dapat mengatasi hipertensi karena didalam susu kedelai terdapat suatu zat bernama isoflavon yang mampu mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit diantaranya adalah hipertensi dan diabetes. Selain untuk mencegah dan mengobati hipertensi dan diabetes kedelai juga untuk melancarkan metabolisme, melancarkan pencernaan, merupakan nutrisi pelengkap, meningkatkan sistem imunitas, memperkuat struktur matrixs tulang, mencegah obesitas, mencegah penyakit ginjal, mengurangi gejala jantung koroner, mengurangi gejala stroke, mengurangi gejala rematik dan asam urat, mengurangi gejala maag. Hal itu dapat terjadi karena kandungan isoflavon dalam kedelai.  
B.      Uraian Umum Vitamin B1
 





Gambar 1. Struktur Thiamin HCl
Berat molekul    : 337,27
Rumus kimia     : C12H17ClN4OS. HCl
Pemerian         : Hablur atau serbuk hablur, putih, bau khas lemah. Jika bentuk anhidrat terpapar diudara dengan cepat menyerap air lebih kurang 4%. Melebur pada suhu lebih kurang 248º disertai peruraian
Kelarutan         : Mudah larut dalam air, larut dalam gliserin, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam eter dan dalam benzene.
(Anonim, 1995).
1.     Sejarah Penemuan vitamin B1(Sunita Almatsier, 2003)
          Pada abad ke-19 ditemukan penyakit beri-beri secara edemis di Jepang, Cina, dan Asia Tenggara. Takaki (1906) menunjukkan bahwa prnyakit ini pada pelaut Jepang dapat dikurangi dengan menggantikan sebagian nasi putih yang telah dimakan, dengan roti yang telah terbuat dari gandum. Eykman (1897) di Batavia/Jakarta Indonesia mengamati bahwa ayam yang makan sisa-sisa nasi putih dari penjara mengalami kelemahan berat. Funk (1911) berhasil mengisolasi faktor antiberi-beri dari dedek beras dan memakannya vitamin. Jansen dan donat (1926) di laboratorium Eykman berhasil mengisolasi bentuk kristal Tiamin dan melakukan uji coba pada burung-burung. Struktur kimia dan sintesis tiamin untuk pertama kali berhasil dilakukan oleh Williams dan Cline pada tahun 1936 .
2.     Sifat Fisika dan Kimia Vitamin B1
Vitamin B1 telah diisolir dalam bentuk murni sebagai tiamin hidrokhlorid. Zat tersebut mengkristal sebagai lempeng-lempeng putih monoklinik dalam tanda yang menyerupai roset. Tiamin mempunyai bau dan rasa khusus. Terurai pada 248oC. Sangat larut dalam air, agak larut dalam gliserol, propilen glikol dan 95% etanol. Tidak larut dalam lemak atau larutan-larutan lemak. Pada suhu biasa, tiamin hidrokhlorid mengambil air dan membentuk suatu hidrat. Oleh karena itu zat yang murni harus disimpan dan tertutup rapat, sebab jika tidak zat tersebut akan bertambah berat. Bila thiamin hidrokhlorid diperlukan untuk larutan setandar, zat tersebut perlu dikeringkan. Tiamin stabil pada 100oC selama 24 jam. Dapat disterilkan pada 120oC dalam larutan encer kecuali jika pH di atas 5,5, kemudian zat tersebut rusak cepat sekali. Analisis analitik untuk thiamin dilakukan dengan cara oksidasi menjadi thiokhrom yang memperlihatkan fluorensi biru khas dalam cahaya ultraviolet. Satu Satuan Internasional aktivitas vitamin B1 seharga dengan lebih kurang 3 ug Kristal thiamin hidrokhlorid (satu gram thiamin hidrokhlorid = 333.000 Satuan Internasional). Di Amerika Serikat kebutuhan vitamin B1 dan vitamin B lainnya dinyatakan dalam milligram bahan murni per kilogram ransum. Turunan hidroklorid jika ditambah NaOH dapat terjadi degradasi menjadi tiokrom dan bias ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri.
Tiamin  atau vitamin B1 merupakan kompleks molekul organik yang mengandung satu inti tiazol dan pirimidin. Tiamin ditemukan terutama dalam biji-bijian dan dedaknya serta sejumlah kecil dalam daging dan kacang-kacangan. Sayuran hijau, ikan, buah-buahan dan susu juga mengandung tiamin dalam jumlah yang bermanfaat. Beras putih, gula, alkohol, lemak, dan pangan yang sudah diolah adalah sumber-sumber tiamin yang miskin (Hakim Nasution dan Darwin, 1991).
          Fungsi dan pengaruh tiamin adalah sebagai koenzim untuk beberapa reaksi inti sampai metabolisme antara dalam semua sel. Usus halus mengabsorbsi tiamin melalui 2 mekanisme, pada konsentrasi tinggi dan konsentrasi rendah. Bentuk koenzim tiamin berfungsi sebagai aldehida transferase (Linder. 2007).
          Defisiensi tiamin yang berat menyebabkan penyakit beri-beri yang ditandai oleh neuropati permukaan/ periferi, terutama dalam beberapa anggota tubuh yang paling banyak digunakan, diikuti oleh perasaan gatal, kaku, empuk dan kelemahan (Linder. 2007). Kecukupan gizi yang dianjurkan sekarang ini untuk tiamin adalah 0,5 mg per 1000 kkal per hari (Hakim Nasution dan Darwin, 1991). Karena tiamin penting untuk metabolisme energi, terutama karbohidrat, maka kebutuhan akan tiamin umumnya sebanding dengan asupan kalori. Kebutuhan minimum adalah 0,3 mg/1000 kcal, sedangkan AKG di Indonesia ialah 0,3-0,4 mg/hari untuk bayi, 1,0 mg/hari untuk orang dewasa dan 1,2 mg/hari untuk wanita hamil (Tanu, ian. 1999).


C.      Uraian Tentang Spektrofotometri Ultaviolet dan Visibel (Mulja, 1990; Underwood, 1986 dan Blaschke, 1988)
1.   Definisi Spektrofotometri
    Sebuah spektrofotometri adalah suatu instrumen untuk mengatur absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Daerah pengukuran spektrofotometri UV adalah pada panjang gelombang 200-400 nm. Spektrofotometri UV disebut juga spektrum elektronik karena terjadi hasil interaksi radiasi UV terhadap molekul yang mengakibatkan molekul tersebut mengalami transisi elektronik. Semua molekul dapat mengabsorpsi radiasi dalam daerah UV tampak karena mengandung elektron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasikan ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang dimana absorpsi itu terjadi, bergantung pada berapa kuat electron itu terikat dalam molekul. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat, dan diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek untuk eksistensinya.
    Apabila cahaya dilewatkan pada suatu media yang homogen adalah monokromator dengan intensitas cahaya yang datang (Io), maka sebagian dari cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi diteruskan (It). Keadaan tersebut dapat ditulis.
Lo = Ia + Ir + It
    Hukum lembert Beer menggambarkan hubungan antara jumlah cahaya yang diteruskan dari suatu larutan dengan konsentrasi suatu konstituen yang menyerap cahaya tersebut, yaitu :
Log(Io/It) = A = a.b.c
Dimana :     Io = Intensitas cahaya yang masuk
                  It = Intensitas cahaya yang keluar
                  A = Serapan
                  a = Absorsivitas
                  b = Panjang medium absorpsi
                  c. Kosentrasi zat terlarut
            Hukum Bougner Beer menyatakan bahwa intensitas cahaya monokromatikis yang diteruskan akan menurun secara ekspononsial apabila konsentrasi senyawa yang mengabsorpsi naik secara aritmatika.
          Baik spektrofotometer berkas tunggal maupun berkas rangkap, dan intrumen yang beroprasi dalam berbagai daerah spectrum, semuanya mempunyai komponen-komponen penting ini, meskipun rinciannya sangat berlainan dalam beberapa hal.
a.     Sumber radiasi
          Sumber energi radiasi yang dipakai pada spektrofotometri adalah deuterium, lampu tungsten, serta lampu merkuri. Lampu deuterium dapat dipakai pada daerah gelombnag 180 – 370 nm (daerah ultraviolet dekat), karena pada rentang panjang gelombang tersebut. Lampu deuterium memberikan gambaran energi radiasi yang lurus sedangkan panjang gelombang 486 – 651,1 nm memberikan dua garis spectrum yang dapat dipakai untuk mengecek kecepatan panjang gelombang pada spektrofotometer. Umur lampu deuterium ± 500 jam pemakaian.
          Lampu tungstein merupakan campuran dari filament tungstein dan gas iodine (halogen), oleh sebab itu disebut lampu “Tungstein-Iodin”. Lampu ini dipakai pada daerah pengukuran sinar tampak dengan rentang panjang gelombang 390 – 900 nm, karena pada daerah ini lampu tungstein-iodin ± 1000 jam pemakaian.
b.     Monokromator
      Merupakan alat untuk mengisolasi suatu berkas radiasi yang menyeleksi panjang gelombang yang diinginkan untuk pengukuran sampel. Alat ini juga berfungsi untuk mendapatkan radiasi monokromatis dari sumber radiasi polikromatis. Monokromator pada spektrofotometer biasanya terdiri dari susunan :
1.     Celah masuk berperan penting dalam terbentuknya radiasi monokromatis dan resolusi panjang gelombang.
2.     Filter berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang diteruskan merupakan cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang gelombang yang dipilih.
3.     Prisma berfungsi untuk mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin supaya didapatkan resolusi yang lebih baik dari radiasi polikromatis.
4.     Kisi, fungsinya sama seperti prisma, namun karena bentuk kisi adalah konkaf, maka dapat memberikan resolusi radiasi yang lebih baik.
5.     Celah keluar, tempat keluarnya sinar monokromatik yang selanjutnya akan diteruskan menuju sampel.
c.     Sampel kompartemen/kuvet
          Kuvet atau sel adalah wadah untuk menaruh sampel yang dianalisa. Ditinjau dari pemakaiannya kuvet ada dua macam yaitu kuvet permanen terbuat dari bahan gelas atau leburan silika dan kuvet disposable untuk satu kali pemakaian yang terbuat dari Teflon atau plastik.
          Ditinjau dari bahan yang dipakai membuat kuvet ada dua macam yaitu kuvet dari leburan silika (kursa) dan kuvet dari gelas. Kuvet dari leburan silika dapat dipakai untuk analisis kuantitatif pada daerah pengukuran 580 – 1100 nm, karena bahan dari gelas mengabsorpsi radiasi UV. Pada prinsipnya spektrofotometer selalu ditempatkan diruangan yang bersih dan terhindar dari radiasi sinar matahari secara langsung.
d.     Detektor
          Merupakan bagian yang mengubah daya radiasi menjadi isyarat listrik. Detektor merupakan salah satu bagian dari spektrofotometri yang penting. Oleh sebab itu kualitas detektor akan menentukan kualitas dari spektrofotometri. Fungsi detektor ini adalah mengubah signal elektronik. Beberapa pustaka memberikan persyaratan tentang kualitas dan fungsi detektor didalam spektrofotometri antara lain :
1.     Detektor harus mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap radiasi yang diterima, tetapi harus memberikan “Noise” yang sangat minimum.
2.     Detektor harus mempunyai kemampuan untuk memberikan respon terhadap radiasi pada daerah panjang gelombang yang lebar (UV-Vis).
3.     Detektor harus memberikan respon terhadap radiasi dalam waktu yang bersamaan.
4.      Detektor harus memberikan jaminan terhadap respon kuantitatif dan signal radiasi yang diterima.
5.     Signal elektronik yang ditransfer oleh detektor harus dapat diaplikasikan oleh penguat (amplifer) ke recorder.
e.     Penguat dan pembaca
          Merupakan rangkaian yang membuat isyarat yang cocok untuk diamati dan sistem pembacaan yang menunjukkan besarnya isyarat listrik. Amplifier merupakan suatu tahanan beban besar yang dihubungkan dengan detektor secara seri. Arus bolak balik yang dihasilkan detektor akan diperkuat oleh amplifier dengan tahanan pemasukan yang tinggi, dimana voltase pada tahanan beban yang digunakan untuk mengendalikan suatu rangkaian yang menarik tenaganya dari suatu sumber bebas dan mempunyai tenaga cukup besar untuk menjalankan peralatan pembacaan sehingga akan diperoleh hasil yang dapat terbaca pada alat pembaca (Gandjar, I.G, 2009).
          Spektrofotometer UV-Vis berdasarkan system optic dibedakan menjadi :
1.     System optic radiasi berkas tunggal, keuntungannya adalah lebih cepat dan teliti.
2.     System optic radiasi berkas ganda, keuntungannya adalah pengukuran yang dilakukan tidak akan terpengaruh penurunan intensitas radiasi dari sumber radiasi semula.
3.     System optic radiasi berkas terpisah, perinsipnya sama dengan optic berkas tunggal hannya saja peralatan optiknya lebih rumit.
2.   Tahapan Analisis Kuantitatif dengan Spektrofotometri Ultraviolet dan Tampak (Visibel)
a.     Pemilihan Pelarut
          Pelarut yang digunakan pada spektrofotometer Ultraviolet dan Tampak (Visibel) harus memenuhi persyaratan yaitu tidak mengabsorbsi radiasi pada panjang gelombang pengukuran sampel. Oleh sebab itu, pelarut harus memenuhi persyaratan :
1.   Tidak mengandung system terkonjugasi pada setruktur molekulnya atau tidak berwarna.
2.   Tidak berinteraksi dengan molekul senyawa yang diukur.
3.   Harus mempunyai kemurnian yang tinggi. (Riyadi, 2009)
b.     Pemilihan Panjang Gelombang
          Pengukuran absorbsi pada analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri baik zat tunggal maupun zat campur pada prinsipnya harus dilakukan pada panjang gelombang maksimum (λ maks). Alasan dilakukan pengukuran absorpsi pada panjang gelombang maksimum adalah :
1.     Perubahan absorpsi untuk satiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimum, sehingga pada panjang gelombang maksimal akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimal.
2.     Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva serapannya adalah datar, sehingga hukum Lambert – Beer akan dipenuhi dengan baik.
3.     Panjang gelombang dapat dicari dengan membuat kurva serapan dengan berbagai panjang gelombang pada sistem koordinat Cartesian pada konsentrasi yang tetap. Panjang gelombang masimum adalah panjang gelombang dimana terjadi serapan maksimal.
3.     Penetapan Kadar dengan Spektrofotometri
          Cara menetapkan kadar zat tunggal dengan metode spektrofotometri :
a.     Membandingkan serapan atau transmisi zat yang dianalisis dengan zat murni. Dalam hal ini dilakukan pengukuran serapan zat (Ax) dan serapan zat standar (A), pada panjang gelombang yang sama yaitu λ maks, sehingga kadar zat X sebagai :


b.     Dengan membuat kurva baku dibuat pada system koordinat cartesien dimana sebagai absis adalah konsentrasi zat standar, dan sebagai ordinat adalah serapannya. Pengamatan serapan dilakukan pada λ maks.
c.     Dengan memakai system ekstingsi spesifik ( 1cm). Cara ini sebagai salah satu usaha analisis kuantitatif zat tunggal dengan metode spektrofotometri yang dalam hal ini tidak mempunyai zat standar. Dengan jalan membandigkan ( 1cm) dari zat yang tertera dalam pustaka, maka kadar tersebuat akan cepat diketahui. 
                    
         








Tidak ada komentar: